Rencana Migrasi Bersama Domi

Lama tak buat tulisan, kali ini tertarik untuk kembali menulis. Selain karena blog seorang kawan menyemangati saya untuk kembali menulis, juga karena tulisan kali ini sangat menarik buat saya. Ya, sangat menarik karena ini tentang sepeda.

Akhirnya saya punya sepeda sendiri. Gak minjem, gak pake punya temen, gak juga ngembat di parkiran. Berkat seorang kawan baik yang mengajak saya kerja disini :)

Dalam waktu dekat, saya mungkin terpaksa migrasi, dan sang sepeda juga akan ikut. Maka, saya coba siapkan sedikit-sedikit.

Beberapa pilihan tersedia untuk bawa sepeda: Dipake, dikirim via layanan paket, atau dibungkus dengan baik lalu dibawa naik kendaraan umum.

Pilihan jatuh pada opsi nomer tiga, karena jarak migrasi cukup jauh (±800km), dan saya terlalu sayang sama si cinta untuk merelakan dia ditumpuk-tumpuk barang lain oleh jasa layanan pengiriman paket.

Untuk bisa bawa si cinta di kendaraan saya perlu alat yang tepat untuk membungkusnya. Teringat informasi waktu browsing beberapa waktu lalu, saya cari kembali detil info tentang sebuah tas untuk membawa sepeda.

Bandits BikeStuff, salah satu produsen tas jenis ini. Local company, bike carrier bag specialist. Somewhere di Tubagus Ismail, Bandung sana.
Tas buatannya sudah banyak dipakai para goweser. Kualitasnya baik dengan harga yang terjangkau dan sebanding. Nice product ;)

Review, analyze, ngitung budget, akhirnya saya pesen sama Mas Bandits (ternyata kawan satu darah juga). Lalu meluncurlah si tas lewat TIKI (thanks TIKI ^.^)

Begitu sampai tempat, dengan bekal rasa penasaran, langsung ane coba tasnya.

Sekalian nyoba, saya bikin langkah-langkah pengerjaannya, barangkali berguna untuk temen-temen semua. Pengepakan Domi bisa selesai dalam kurang lebih 12 tahap. Memakan waktu tidak lebih dari 30 menit. Sepeda pun masuk dalam tas dan dapat segera dibawa kemana-mana. Untuk lihat langkah-langkah pengepakan Domi, silakan lihat disini.

Domi siap dibawa jalan

Mencoba tas ini sebetulnya juga sekalian ngerawat si Domi. Karena sebulan terakhir dia penyakitan. Muncul bunyi-bunyi ‘kriet-krek-kriet-krek’ setiap pedalnya saya gowes. Selidik punya selidik, sumber bunyi berasal dari bottom bracket. Ada apa dengan BB Domi? Lihat disini untuk complete reviewnya.

Posted in Mekanik | Tagged , , , , , | 2 Comments

Domi Packaging; step-by-step pic gallery

This gallery contains 12 photos.

12 langkah dasar untuk packing Domi (sepedaku) saat akan dibawa bepergian. Tingkat kesulitan rendah-menengah. Waktu pekerjaan ±30menit. Dapat dikerjakan sendiri. Beberapa alat tambahan yang diperlukan: Pompa Kunci untuk disc rotor (center lock atau 6 bolt) Kunci pedal (biasanya kunci pas 15) … Continue reading

More Galleries | | 6 Comments

Jakarta jagonya bikin rame-ramean

Teringat ucapan kawan, orang Betawi aseli (betwai kalo kata temenku), tentang serunya bersosialisasi di Jakarta. Begini katanya “Lu belom jadi orang Jakarta kalo lu belom ikut rame-ramean di acara yang ada di Jakarta”. Hmm… arti ucapan sang sohib nih agak ngambang sebenernya. Stelah saya kejar-kejar trus dia jelasin lebih jauh, acara yang dia maksud adalah acara yang bersifat massal entah itu pagelaran budaya, pertunjukan musik akbar, festival film, pertandingan olah raga, atau pun sekedar fenomena acara musiman.

Beberapa waktu yang lalu, secara gak sengaja, saya menjalani salah satu proses inisiasi jakarta-isme versi kawan ini :D (walopun sebenernya saya tingal di tangerang). Kebetulan badan sedang oke, kepala sedang ingin hiburan,  kantong sedang berisi, dan sang pujaan hati ngajak jalan, maka setelah perencanaan setengah matang plus persiapan seadanya kita pun jalan ke Monas malam hari 31 Desember 2010.

Berangkat dari Tangerang (Batu Ceper) ±jam 19.30 lepas isya. Bawa bekel jaket tebel, selendang,  jas ujan, payung, roti, biskuit, aer berliter-liter, koran dan plastik, sama baju salin (kayak mo kemping ke Gede-Pangrango aja yah?!?). Hoo, bekel yang paling penting juga adalah kamera dan hati yang bulat. Gak boleh mbalik pulang, gak boleh ngedumel dijalan.

Dan inilah rame-ramean versi JKT,, spektakuler,,

Perjalanan

Dateng dari Jl Suryo Pranoto, kita dah gak boleh belok kanan ke Jl Maja Pahit. Akhirnya terpaksa belok kiri ke Jl Gajah Mada untuk puter balik. Dan ini lah yang diperoleh di sekitaran halte busway Harmoni.

Dari Jl Gajah Mada ternyata masih gak boleh lurus ke Jl Maja Pahit, terpaksa lagi, belok kiri ke Jl Djuanda. Beruntung, gak perlu jalan terlalu jauh, bisa muter lewat atas jembatan kecil di depan sampingnya kantor SekNeg. Di Jl Djuanda ketemu kendaraan dinas PASPAMPRES, yang entah kejebak macet pas tugas, pas mau pulang, ato juga sama-sama mau cari hiburan kayak saya :)

Eeeh.. dari Jl Djuanda kita gak dibolehin belok kiri ke Jl Maja Pahit! Padahal, 1,5 jam sebelumnya saat saya baru nongol dari Jl Suryo Pranoto jalan itu masih dibuka! GILA.. kepaksa lurus, dan kembali ke Jl Suryo Pranoto….. oh mi got, 1,5 jam buat macet2an gak guna. Kepalang sampe situ, dengan mental sok tau dan tekad baja, nyoba masuk-masuk jalan kecil sampe keluar di sebelahnya musium Monas (belakangan saya tahu bahwa saya lewat Jl Tanah Abang 1 – Jl Abdul Muis – Jl Museum), muncul lah di Jl Medan Merdeka Barat :D

Disambut dengan lalu lintas super-crowded, hampir bikin nyali nge-per. Tapi dengan sedikit perjuangan dapet parkir motor, kita putuskan untuk meneruskan berjalan kaki masuk halaman Monas (sambil deg-degan khawatir sama motor).

 

Sampe di Monas

welcome to Monas; welcome to the jungle

Sampe di halaman Monas, masuk dari pintu Selatan, disambut dengan jubel-jubelan manusia segala jenis dan segala rupa. Pol abis pokoknya :D

Ternyata sang Monas gak siang-gak malem, gak jauh-gak deket, gak sepi-gak rame, tetep aja bagus. Balik badan ngadep barat daya, dapet view sama bagusnya. Gedung kembar Bank Indonesia dengan lampu2nya berdiri elok, ikutan nonton kita para manusia bejubel disini.

 

 

 

 

 

Ganti Tahun

23.43 WIB

Hmm…. seekor jam yang berani-beraninya nyandar di tangan mulus pujaan hatiku nunjukin jam 23.43 WIB. Segera ganti kalender nih (semoga gak perlu ganti pemilik jam tangan :D ). Monas semakin hot, udara semakin pekat, temperatur semakin hangat, manusia pada berebut korek api, bakal nyalain kembang api katanya. Beberapa yang lain tetep ngeyel niupin terompet, padahal sang terompet tetep aja kepanasan.

 

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu oleh ribuan orang Indonesia pun datang. TOEEETTT…. TOEETT….[terompet], PTAR! PTAR! suiiiing…PTAR!![kembang api dan petasan], cekrek… cekrek… cekrek…[shutter kamera],  dan preeet…. (sayah masup angin, padahal pengennya masup AKABRI :D ). Hmmm, ternyata sulit. Tapi beruntung dapet 2 best shot :D

fireworks2

fireworks1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hoooo…. fireworks… i like it…. good job :D

Sekian detik, seketika sang monas dikeroyok kembang api berbagai macam warna dari berbagai penjuru, asyik, cantik. Sayang gak bawa tripod padahal tangan cap olahragawan kempor ini dah pasti geter buat bukaan difragma lama.

 

monas dan kembang api

 

Aktifitas Lain

Apa kabar manusia yang lain? Ternyata ditengah hiruk-pikuk sekali pun, semua orang bisa asyik sendiri-sendiri.. Nggak cuma bermain kembang api, ada yang pacaran, ada yang tamasya keluarga, ada yang belanja, dan so pasti ada yang jualannya.

 

(to be continue.. this eyes need some rest, this ass need some bed)

 

 

Posted in ceceran kececer, Sosial dan Budaya | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Meteran Bensin Ngaco

John Doe, seorang bule dari eropah dateng ke Jakarta untuk berlibur. Ini kali ketiga dia mengunjungi Indonesia. Sekali ke Bali, dua kali ke Jakarta. Untuk akomodasinya selama disini, dia putuskan untuk nyewa motor bebek ke Bang Paijo, bandar ojek di kampung deket apartment tempat dia tinggal.

Setelah ambil motor, dengan bensin ful-teng, Mr. John Doe keliling Jakarta, menikmati jalan-jalan kota. Bensin habis dalam sehari, kemudian dia isi penuh, jalan-jalan lagi. 5 hari di Jakarta menghabiskan hampir 3 tangki penuh bensin, dia mulai menyadari sesuatu.

“Perasaan, ni motor irit kalo baru diisi bensinnya, tapi jadi boros saat isinya kurang dari setengah? Kenapa ya?” tanya John Doe dalem hati. [beneran bgitu kok, ni bule dah paseh bahasa Indonesianya]. Penasaran, dia pun bertanya sama Paijo tentang pertanyaan di kepalanya, waktu mau balikin motor sewaan sebelum pulang eropah. Dengan berat hati, Paijo menyatakan bahwa dia tidak punya jawaban tentang itu. Dengan seijin Paijo, John Doe membawa motor bebek itu ke bengkel untuk cari tau jawabannya sampe dapet. Dia gak mau pulang bawa penasaran katanya.

Hebatnya si bule ini, dia dapet jawabannya, dan beruntung dia sempet cerita hasil penemuannya pada saya waktu kita ngopi di cafe bandara sambil nunggu pesawatnya berangkat. Jawabannya ada pada sistem penunjuk bensin. Motor tidak berubah jadi tambah boros, tapi sistem penunjukan bahan bakar membentuk psikologis seperti itu pada pengendara. Saya coba ceritakan kembali seperti ini:

Petunjuk isi bensin di dashboard motor bertujuan untuk mengetahui isi bensin di dalam tangki. Dalam benak pengguna motor pada umumnya muncul pemikiran bahwa yang terukur adalah volume bensin. Satu liter, dua liter, tiga liter, dan seterusnya.

Saat membongkar motor, John menemukan bahwa sensor dalam tangki berupa pelampung yang akan mengambang pada permukaan bensin dalam tangki. Hasil pembacaan sensor dikirim ke dashboard untuk kemudian ditampilkan dalam grafik batang (bar graph) pada display digital, atau jarum yang menunjuk susunan garis pada display analog.

Sistem sensor-display ini bekerja secara linear. Artinya besaran yang ditunjukan pada display akan sebanding dengan nilai yang terukur pada sensor, dengan skala yang tetap dari nilai 0% ke nilai 100% – nya. Untuk jelasnya, bisa lihat ilustrasi di samping.

Disimpulkan bahwa yang dibaca oleh sensor bukan volume bensin dalam tangki. Melainkan ketinggian bensin dalam tangki.

Saat bensin masih penuh atau sisa banyak penunjuk bensin turun secara perlahan mengikuti konsumsi bensin saat motor dipakai. Tapi saat sisanya kurang dari setengah, kecepatan turunnya lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh bentuk tangkinya itu sendiri. Dia besar di atas, mengecil di bawah.

tengsin (tengki bensin)

Untuk volume sama, yang berpengaruh pada ketinggian bensin dalam tangki adalah luas permukaan tangkinya. Semakin sempit permukaan tangkinya, maka semakin tinggi permukaannya. Semakin luas permukaan tangkinya, maka semakin rendah permukaannya. Hal ini bisa dianalogikan dengan sebotol minuman ringan akan mengisi gelas lebih tinggi pada gelas yang berdiameter kecil, dan akan mengisi lebih rendah pada gelas berdiameter besar (ssstt…. psikologi ini banyak dipake dalam strategi penjualan minuman di cafe atau restaurant lho, makanya gelas2nya biasanya kecil tapi tinggi. Sehingga pengunjung akan berasa dapet minum banyak. Padahal volumenya sama aja :D ).

luas permukaan kuning lebih dari luas permukaan merah

Konsumsi bensin saat motor nyala memang bervariasi, tergantung beban motornya. Tapi boleh kita ambil rata2. Misalkan 25 cc per menit (diperoleh dengan asumsi konsumsi bensin adalah 1 liter setiap 40 km perjalanan, dengan kecepatan 60 km/jam). Misalkan permukaan tangki bagian atas adalah 600cm² (kotak 30cm x 20cm), tengah dan bawah adalah 400cm² (20cm x 20cm). Artinya setiap 1cm tinggi bensin, volumenya adalah 600cc bila tangki penuh, dan 400cc bila tangki isi setengah.

Lalu bisa dihitung untuk waktu 1o menit, permukaan bensin akan turun sebesar 0,42cm saat tangki penuh (10menit x 25cc/menit x 1cm/600cc). Sedangkan bila tangki berisi setengahnya, maka permukaan akan turun 0,63cm (10menit x 25cc/menit x 1cm/400cc). Artinya, dengan laju konsumsi bensin yang sama, permukaan bensin akan turun lebih cepat saat isi tangki kurang dari setengahnya. Dengan sistem penunjuk bensin seperti di atas, maka indikator pun akan turun lebih cepat. Hal ini yang kemudian secara psikologis membuat pengendara merasa motornya lebih boros saat isi bensin sudah sedikit.

Sesungguhnya, pabrikan sudah menggunakan penyampaian yang tepat mengenai sensor ini untuk mencegah timbulnya kesalah pahaman pengendara. Pihak pabrikan menggunakan bahasa yang tepat, yaitu sensor tinggi bahan bakar, bukan sensor volume bahan bakar. Hal ini dapat kita lihat pada informasi yang tertera di manual book, seperti pada gambar. Sayangnya, banyak pengendara motor yang gak terlalu suka baca manual book :D

Begitulah hasil penemuan mister John Doe tentang perasaanya pada motor bebek saat di Jakarta sini. Oh, ya, hampir lupa, dia juga bilang bahwa kasus seperti ini hanya akan terjadi pada tangki yang bentuk penampangnya berubah secara signifikan terhadap ketinggiannya. Dan penelitian gak seberapa yang dia lakukan, hanya pada motor bebek doang, gak di motor laki, gak juga di mobil.

Selamat jalan mister John Doe, semoga selamat sampai tujuan.

 

===============================================================

picture source and link

motor ; letmecolor.com ; Link 1
bebek : coloring-pages-kids.com ; Link 2
bensin botol ; mediaindonesia.com ; Link 3
pelampung bensin ; tokoirm.com ; Link 4
ilustrasi ; author prop. ; Link 5
tengsin ; author prop. ; Link 6
tengsin belah ; author prop. ; Link 7
sensor tinggi permukaan bahan bakar ; private ; no link
Posted in Mekanik, Teknik | Tagged , , , , | Leave a comment

Konversi Satuan

Seorang ibu yang sedang masak buat katering meminta anaknya -kebetulan mahasiswa teknik mesin, semester tiga- untuk pergi ke pasar membeli cabe (yang mana kata gosip lagi mahal-mahalnya)

 

Kata bunda “Kiiii, Pleki.. Kamu jadi mo nganter buku ke rumahnya Mei-Cin?”                “Jadi Bun” Kata Pleki. “Emang knapa?”                                                                              “Bunda titip beliin cengek di pasar yah?”                                                                                 “Oke bun, beres.

……………….

Setelah selese urusannya di rumah Mei-Cin, Pleki mampir ke pasar, langsung meluncur ke lapak mister Dulkamit, langganan keluarganya sejak jaman Oma mulai usaha buka katering dulu.

“Eh elu Plek” Mang Dulkamit nyapa. “Mo beli apaan? Disuru mama yah?”

“Iya mang, ni cabe rawit kurang kata Bunda. Minta seperempat aje Mang”

“Okeh, ni dia, mamang pilihin yang bagusnya. Cengek dua setengah ons. Jadi lima belas rebu tujuh ratus lima puluh perak Plek” (nah, usilnya Dulkamit mulai tuh). “Dah lah mabelas gope ajah Plek”

“Hwarakadah..!! mahal bener mang? Si Pleki terkejut alang-kepalang [huahahaha] “Yang bener aja mang?”

Si Mang Dulkamit maklum ‘”kali ni anak gak tau cabe lagi mahal ya’” pikirnya dalem hati. Baru aja mau njelasin, eh Pleki ngomong lagi “Mamang ngasinya kebanyakan kali nih? Saya kan minta seperempat kilo, tapi mamang malah kasi dua setengah ons”

Ketawa lah si Dulkamit. “Pleki… sekilo kan sepuluh ons. Kalo seperempat ya dua setengah ons lah” sambil senyum-senyum, Dulkamit ngajarin si Pleki.

Pleki yang kebeneran lagi panas otak terus manggut-manggut sambil mulutnya menganga berasa bego, bayar duid, ambil kembalian, cabut.. (masi pasang muka bego)

Sampe di rumah, Pleki kasi cabe dan duit kembalian ke bundanya. Trus langsung masup kamar, buka-buka buku fisika dan tabel konversi satuan di buku termodinamika.

“Hoooo……” katanya “Haaaa………” [si Pleki seteres] “Hmmm.. bgitu yah” akhirnya dia dapet jawaban yang cukup memuaskan. Gak lama kemudian dia buka komputer, nge-net dan cari software konversi satuan buat di install di kompu nya.

================================================================

Beberapa kejadian menarik adalah:

  • Si Pleki, kuliah di jurusan Teknik Mesin, tapi sense of technique-nya belom terasah dengan baik. Padahal ini perkara satuan, yang boleh dibilang cukup fatal untuk anak Mesin.

Hasil pencarian Pleki menemukan beberapa hal yang menarik juga. Dia jadi teringat pelajaran sekolanya dulu bahwa 1 kg = 10 ons, dan 1 kg = 2 pon. Padahal dia juga nemu satuan ounce dan pound yang menunjukan angka konversi berbeda dari kg. Katanya 1 kg = 35.274 ounce dan 1 kg = 2.205 pounds.

Saya gak berani bilang tulisan merah di atas adalah salah. Tapi saya yakin bahwa tulisan hijau di atas sudah diakui secara internasional. Maka berhati-hati lah buat para teman2 yang bermain di area internasional, jangan menyamakan ons dengan ounce juga jangan menyamakan pon dengan pound . Nampaknya masih ada kesimpangsiuran penggunaan ons dan pon di Indonesia. Dan saya gak mau ikut-ikutan simpang-siur.

Kalo tertarik baca pembahasan dan diskusi yang cukup baik, coba lihat blognya pak Bram, disini.

********

  • Konversi satuan sekarang dah gak perlu bawa buku kemana-mana. Cukup lihat hape ato leptop ato komputer.

 

tampilan converber

Yang perlu software konversi satuan untuk di komputer ato leptopnya, pake aja software Converber. Saya dah lama pake. Tampilannya enak, penggunaannya mudah, bisa di-update liwat internet, jumlah file-nya kecil, dan haratis pula. Oh ya, dan ada versi portable-nya. Jadi temen2 bisa simpen di flesdis dan tinggal colok-pake dimana-mana. Untuk donwnload, silakan dateng ke situsnya xyntec, disini.

Kalo butuh buat yang di hape, sayang saya belum punya :D    Kalo ada yang tau link-nya, bagi-bagi yah :)

********

  • Harga cabe dah mulai keliwatan mahalnya. Kesian yang pada jualan makanan, karena musti mikirin sambel dan segala macemnya itu. Untung aja Ibuku punya pohon cabe sendiri di rumah. Tu cengek yang tumbuh di halaman rumah, pedes banget. Kalo makan itu, rasanya kaya ditampar setan pake sedal jepit!

********

  • Dulkamit emang usil orangnya. Tempo hari juga dia malah ngajakin tetangganya yang lagi berantem sama isterinya untuk maen kartu begadang di rumah dia. Coba deh lihat ceritanya disini :D
pic source: ekonomi.kompasiana.com   dan   fisikarj.blogspot.com   (klik pic to go to the source)
Posted in ceceran kececer, Sosial dan Budaya | Tagged , , , , | Leave a comment

Chassis

Dimensi dan Bentuk

Ukuran Barokah III sekira 18cm x 16cm x 11cm (panjang x lebar x tinggi). Bentuknya kotak. Memiliki 3 roda, 2 roda penggerak plus 1 roda bebas.

Roda penggerak di bagian belakang, pake roda karet eks mobil sedan RC boleh minta dari AGP, sang adek yang baek hati. Diameter roda ±7,5cm dengan lebar ±4cm.

Roda bebas terletak di depan. Konstruksinya mirip roda gerobak baso tahu. Jadi kemanapun robot bergerak, dia akan mengikuti arahnya. Terbuat dari pelek dan ban tamiya, sisa mainanku dulu.

Rangka

Bentuk dasar rangka Barokah III seperti ni

this how the frame was :D

acrylic/akrilik/plexiglass

Rangkanya dibuat menggunakan bahan akrilik tebal 3mm warna kuning, berbentuk kotak yang gak nyeni sama sekali. Dapet motong dari lebih-lebihnya bahan TA partner saya. Pertimbangannya karena ketersediaan bahan dan pengerjaan dengan tingkat kesulitan menengah serta kebebasan menentukan bentuk dan variasinya. Mudah dibongkar pasang dan juga mudah diekspansi bila ada perkembangan desain rangka. (pic source meditationsonlifeandstyle.blogspot.com)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat merancang dan membuat rangka seperti:

  • Pikir simpel, jangan ribet-ribet. Cari solusi semudah mungkin. Sebagai informasi, Barokah I dan Barokah II dibuat dengan rangka dari kotak taperwer, boleh nyolong dari FDY, kakakku yang manis :D . Baru pada pengembangan Barokah III rangka kita buat dengan agak rumit, atas pertimbangan lomba.
  • Sisakan tempat yang cukup untuk penempatan PCB, girboks, baterai, dan sensor. Yang perlu tempat paling besar adalah baterai. Yang perlu posisi paling tepat adalah sensor, baik posisi horisontal maupun ketinggiannya. PCB bisa dengan mudah ditaruh dimana saja, dan bentuk PCB bisa dengan mudah dirubah-rubah untuk menyesuaikan. Girboks akan cukup makan tempat, tapi tidak sebesar baterai dan tidak perlu setepat sensor.
  • Buat rangka yang mendukung penempatan titik berat sasis serendah mungkin. Segala jenis kendaraan, mainan atau beneran, besar atau kecil, akan lebih baik pengendaliannya saat memiliki titik berat yang rendah. Karena dia lebih stabil.
  • Bila ingin berlomba, buatlah rangka yang cukup kuat. Setidaknya dia tahan saat harus nabrak dinding pada kecepatan maksimumnya, karena bisa jadi dia nabrak tembok pembatas saat nyasar. Buat agar tahan saat harus jatuh dari ketinggian ±50cm, untuk jaga-jaga bila nyasar di lintasan tinggi. Beberapa trek lomba punya lintasan tinggi yang gak kira-kira, bahkan sampe 1 meter-an, kalo dah begini, banyak-banyak lah berdoa.

Sistem Penggerak

Tenaga pengerak berupa motor DC 12V, xxxrpm. Motor DC mudah dikontrol kecepatan maupun arahnya. Tenaga dari motor diteruskan ke roda melalui 3 buah (2 pasang) roda gigi, 2 roda gigi tunggal + 1 roda gigi ganda.

gearbox exploded view

Susunan roda gigi dipasang pada akrilik rangka menggunakan poros-poros, maka rangka sekaligus menjadi gearbox. Sebetulnya kita sudah dapet girboks jadi, dapet beli di pasaran. Sayang, girboks ini menggunakan 5 buah (4 pasang) roda gigi. Sehingga keluaran tenaga di rodanya memiliki torsi terlalu besar, dengan putaran rendah. Konfigurasi bawaan pabrik ini juga menyebabkan dimensinya terlalu besar. Sehingga untuk memperoleh torsi + putaran yang tepat pada roda, serta untuk menghemat dimensi, maka “terpaksa” kita modifikasi dan buat sendiri girboksnya :) Caranya dengan menyusun ulang roda giginya dengan jumlah yang lebih sedikit, sehingga kita dapat keluaran tenaga dengan torsi dan kecepatan putar yang lebih baik.

Tingkat kesulitan pembuatan girboks ini cukup tinggi. Saya tidak menyarankan hal ini untuk pemula di robotik dan/atau pemula di produksi konstruksi. Karena sangat berpotensi membuang waktu dan biaya. Namun, bagi yang senang ngoprek dan eksperimen, jangan khawatir. Toh kita yang amatir pun berhasil membuatnya dengan cukup baik :)

Sistem Kemudi

Pengendalian arah gerak memanfaatkan sistem penggeraknya, dengan cara mengatur kecepatan roda. Pengaturan kecepatan dilakukan menggunakan metoda PWM (Pulse Width Modulation), yaitu dengan mencacah frekuensi tegangan pada motor sehingga tegangannya lebih rendah daripada tegangan kerja normal (rated voltage) motor.

sistem kemudi

Saat akan berbelok ke kanan, maka kecepatan roda kanan dikurangi. Jika ingin belok lebih patah, maka pengurangannya semakin besar. Ketajaman belok dipengaruhi perbedaan kecepatan antara 2 rodanya. Roda bebas di bagian depan -kita menyebutnya dengan roda bakso tahu- akan mengikuti arah gerak Barokah III sesuai dengan dorongan roda penggerak karena dibuat ber-offset. Prinsip kerjanya kira-kira seperti pada gambar berikut,

Pembuatan

Dalam proses pembuatannya banyak melibatkan proses potong, lubang, dan tekuk.

bor tuner/hobby drill

gergaji profil/gergaji triplek

2 alat yang sangat berguna yaitu bor tuner listrik ukuran kecil (boleh minjem dari DnDm) dan gergaji profil yang biasa dipake pengrajin gantungan kunci kayu.

 

 

Metode penyambungannya menggunakan lem dan baut. Gunakan trik khusus saat menyambung 2 lembar potongan akrilik untuk membentuk sudut. Yaitu dengan cara mebuat celah agar posisi sambungan tetap, potongan saling mengikat, dan luas bidang tempel lebih besar.

 

 

Cari Bahan

Kalo butuh akrilik, silakan cari di toko penjual khusus akrilik (biasanya juga jualan mika, teflon, dsb), ato di pengrajin papan reklame dan advertising, pengrajin stempel grafir, dsb.

Dulu di Bandung saya pernah nemu toko yang jual akrilik cukup lengkap berbagai ukuran di deket Jl. Suniaraja (viaduct). Tepatnya di balik toko2 Jl. Banceuy, yang terhubung sama Jl. Pecinan Lama dan Jl. ABC itu. Untuk jelasnya, bisa liat petanya disini.
Untuk kota-kota lain, saya belum sempet jalan ngubek-ngubek jadi gak begitu tau. Tapi bisa coba tengok beberapa thread dan diskusi di link oprekPC ini, ato KOC2 ini.

Kalo beli di toko, biasanya musti lembaran besar. Kecuali sang toko punya potongan2 kecil sisa-sisa. Makanya saya lebih suka berburu di para pengrajin :D

Harga akrilik kira-kira Rp 35.000 per meter persegi untuk ketebalan 3mm

 

 

 

 

Untuk tinjauan perancangan secara umum, silakan lihat disini

(under construction)

Posted in Membuat Line Follower Robot, Teknik | Tagged , , , | Leave a comment

terima kasih or tengkyu

pak bos : Bijeh, tugas kemaren sudah selesai?

saya : Sudah pak, saya simpan dalam map biru, di atas meja bapak, di pojok kanan.

pak bos : OK de kalo begitu, tengkyu ya

saya : Ya pak, sama-sama.

Hmm…. ada yang sedikit membuat saya geli dengan percakapan ini. Yo’i, tengkyu ini lah yang bikin saya geli. Kenapa geli? karena menurut saya penggunaannya tidak sesuai aja sih, dan ternyata hal ini telah menjadi sebuah fenomena yang sangat umum ditemukan di lingkungan saya.

Awalnya gak begitu hirau dengan fenomena itu. Saya anggap memang beberapa orang aja yang punya kebiasaan untuk berterima kasih dengan kata tengkyu ini. Tapi ternyata enggak loh. Buanyak banget yang menutup pembicaraan dengan kata sakti ini.

oke de, nanti saya kirim via email ya pak,, tengkyu
bu, harga barang yang terakhir sudah dengan pajak ya? tengkyu
memonya sudah saya CC pak, tengkyu

Hwarakadah….. kenapa sih ko tengkyu? kenapa gak pilih terima kasih, atau makasih, atau kalo yakin ketemu dengan rekan satu daerah pake aja hatur nuhun, matur nuwun, maulite godang, so on so on.

Lho lho, kenapa saya jadi usil?? bgini masalahnya. Kalo satu dua orang sih gapapa. Kali dianya emang biasa berbahasa inggris. Mungkin dianya lulusan Harvard. Bisa jadi si doi berbini bule. Biarlah kalo begitu. Tapi kalo semua orang begini,, hmmm.. ini sih namanya wabah.

Wabah ini seketika jadi lucu, alih-alih menyebalkan.

Rekan kerja, seorang suku Jawa, dengan lidah tebalnya yang sudah terbentuk, sering bicara bahasa Indonesia dengan logat Jawa kental, lha kok melu-melu ber-tengkyu-ria lho?? Bisa dibayangkan bagaimana terdengarnya toh?

Seorang admin, cewek manis, agak cerewet, aseli Tasik-Ciamis, lebih sering ber tengkyu dari pada ber terima kasih. Bicara harian pun (percakapan informal) lebih sering pake bahasa sunda kental,, tapi geningan sarua wae  make tengkyu.

Abang penjual karedok, posisi sekitaran opis, mungkin sangking seringnya ketemu sama rekan2, ya sekali-kali pake tengkyu juga setelah kasi kembalian.

“Thank you” dalam bahasa Inggris berarti terima kasih. Suatu ungkapan yang dinyatakan seseorang sebagai ekspresi untuk memberi penghargaan atas diterimanya suatu pemberian, bantuan, pujian,  dan sejenisnya, kepada seseorang lainnya.

Menurut pronunciation (pelafalan) bahasa inggris yang tepat, thank you dibaca [thangk-yoo], atau pelafalannya menurut IPA-nya (International Phonetic Alphabet) adalah /ˈθæŋkˌyu/.

Tentu saja cara membaca tengkyu dengan ‘e’ yang sama seperti ‘e’ pada ember adalah salah. Apalagi beberapa orang dengan sporadisnya menggabungkan ‘tengk’ dengan ‘yu’ menjadi tengkyu lalu dipisah pada ‘kyu’ lalu dibaca ‘kiyu’,, sehingga lebih terdengar seperti teng kiyu, apakah ini temannya teng baja? ato sodaranya teng-teng blues?

Oke.. oke.. saya minta maaf kalo menyinggung beberapa orang. Tapi sebenernya ini sama sekali gak bermaksud untuk menyinggung lho. Justru saya mengajak temen-temen semua untuk lebih baik. Mari kita mencintai budaya kita sendiri. Mari lebih menghargai keberadaan bangsa sendiri.

Kalau hendak berpartisipasi dalam internasionalisasi, hendaknya lakukan dengan baik dan benar. Yah tidak perlulah sampai ke urusan pelafalan. Setidaknya gunakan bahasa inggris itu dengan niat ingin bisa berbahasa inggris. Bukan karena kpengen gaya, karena latah, karena ikut tren, apalagi karena malu pake bahasa Indonesia.

Sering saya temukan hal-hal lucu seperti ini juga dalam bentuk tulisan. Seperti tersenyum geli saat membaca nota dari sebuah bengkel ternama, disitu tertulis sper pat. Ya… saya tau, kamsutnya tu spare part. Padahal gak ada masalah kalo sang kasir cantik dengan muka terpelajar itu menulis suku cadang disitu.

Huruf pun terkena imbasnya. Seperti terjadi pada percakapan antara seorang dengan kemeja rapi, celana bahan, dan sepatu pantopel mengkilat, yang sedang bicara lewat telepon dengan rekannya.

Si mas: alamat imelnya apa?

Si rekan: alvin et yahu dot kom mas.

Si mas: dieja dong.

Si rekan: a – el – ve – i – en et yahu dot kom mas. a – el – ve – i – en, alvin.

Si mas: pake vi ato apa? maksutnya fanta ato viva nih? (dengan nada nanya yang ayey banget)

Dan si saya yang nguping disebelahnya jadi ikut geli. Namanya ve ya viva kalleee. Kalo fanta itu ef boos. Gak ada yang dilafalkan vi, kecuali dalam bahasa Inggris. Kalo mau ngeyel pake bahasa Inggris, maka jadinya e – el – vi – ay – en, alvin. Bgetooo…. :(

Ada juga yang menyisakan tanya di kepala saya. Kenapa orang selalu bilang andu untuk undo, tetapi jarang sekali bilang ridu untuk redo. Begitu pula kita bilang restar bukannya ristar untuk restart :D

Yah, begitulah fenomenanya. Terlihat atau tidak, banyak juga aksi campur-campur di tulisan-tulisan saya ini. Malah beberapa dibuat dengan sengaja, seperti menulis wot ar yu duing in de midel of de nait laik dis.

Hahahaha, mari bangga jadi bangsa Indonesia. Mari dukung internasionalisasi bangsa kita dengan cara yang baik.

Posted in ceceran kececer, Sosial dan Budaya | Tagged , , , , , | Leave a comment